Kenapa Para Wanita Perasa | Pengajian Malam Kamis

Surat An-Nisa ayat 3:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً...

Pada ayat tersebut, mengapa setelah fi'il muta'addi (fankihû) terdapat mâ maushuliyyah (mâ thâba), padahal mâ itu menunjuk pada ghair 'âqil, sementara wanita itu bukan ghair 'âqil tetapi 'âqil, seharusnya "man thâba lakum", menggunakan maushul "man" yang merujuk pada makhluk yang 'âqil. Tapi ayat tersebut jelas menyatakan "mâ thâba lakum", dengan maushul "mâ".

Jawabnya, Allah memilih maushul berupa "mâ" bukan "man" untuk menunjukkan bahwa fitrah wanita itu lebih melibatkan berbagai hal pada perasaan dan emosionalnya ketimbang rasio atau logikanya (akal). Senangnya dipuji, disanjung, disayangi, diperhatikan, dimanja, dan seterusnya yang berkait erat dengan perasaan dan emosional lainnya.

Makanya, wanita itu mudah menangis, kecewa, sedih, bahagia, bangga, takut, khawatir, trauma, dan lain sebagainya, karena memang itulah fithrah wanita. Jadi, kurang relevan kiranya jika kita memperlakukan wanita diukur dengan logika kita (sebagai lelaki).

Selamat mencinta... ❤ [AM]