Pengasuh

Khodimul Ma’had (KH. Hasan Nuri Hidayatullah)

Nama KH. Hasan Nuri Hidayatullah atau lebih dikenal dengan “Gus Hasan” merupakan nama yang tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk di wilayah Karawang Jawa Barat, khususnya kecamatan Cilamaya. Kyai ini dikenal sebagai sosok muda yang santun, cerdas, progresif dan visioner. Walaupun usianya masih relatif muda, namun keilmuannya sangat mumpuni layaknya kyai – kyai sepuh lainnya. Hal ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang ditempuhnya baik dari lingkungan keluarga maupun pesantren lainnya.

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan pribadi Gus Hasan. Beliau merupakan putra hasil pernikahan KH. Ibrahim Majid, seorang kyai dari Banyuwangi dan Nyai Hj. Sa’adatul Ukhrowiyah (Putri pendiri pesantren Manba’ul ulum Berasan Muncar Banyuwangi). Semenjak kecil, pesantren menjadi lingkungan yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian Gus Hasan. Tata laku yang diajarkan oleh sepuh-sepuhnya menjadikannya seorang pribadi yang sangat mencintai ilmu dan mengayomi masyarakat.

Pendidikan kecilnya dia habiskan di pesantren Manba’ul ulum Berasan, Muncar, Banyuwangi pimpinan K.H. Iskandar (Askandar), yang notabene kakek Gus Hasan. Sebagaimana layaknya kehidupan pesantren pada umumnya, walaupun merupakan putra seorang kyai, serta merupakan cucunya sendiri, Hasan dididik dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Kecintaannya terhadap teman – temannya sesama santri menjadikan Hasan lebih memilih tinggal di asrama santri daripada tinggal di rumah kakeknya (ndalem)-sebutan untuk rumah kyai. Kehidupan santri yang ala kadarnya, serta jauh dari kesan mewah.

Sikap rajin, ramah dan mudah bergaul menjadikan Hasan banyak disenangi oleh teman-temannya. Ditambah lagi dengan kecerdasan yang dimilikinya. Jika mendapati temannya kesulitan dalam dalam belajar, dia tak sungkan-sungkan membantunya. Di mata mereka, Hasan menjadi tempat bertanya tentang banyak hal. Sikap suka membantu temannya tidak hanya dia tunjukan dalam hal-hal yang bersifat pelajaran, namun juga dalam segi materil. Dia tak jarang mentraktir temen-temennya ketika datang kiriman bekal dari orang tuanya. Dalam pandangan teman-temannya Hasan merupakan sosok yang suka berbagi serta tidak pelit. Sikapnya yang demikian, tak pelak menjadikanya sebagai sosok santri yang istimewa dimata teman-temanya. Di mana ada Hasan, disitu pasti teman-temannya berkumpul.

Selama di pesantren dalam hal belajar al-Quran, Hasan dibimbing langsung oleh neneknya, sedangkan dalam ilmu fiqih dia dibimbing oleh KH. Hasan Sadzili yang notabene pakde nya. Dalam hal ini bukan hanya nasab Hasan yang jelas, tetapi sanad keilmuannya pun terlihat secara jentre.

Pendidikan dasar dia lalui dengan segudang pengalaman masa kecil yang menarik. Setelah pendidikan dasar dia tamatkan. Keingintahuannya yang tinggi terhadap lingkungan pesantren di luar daerah kelahiranya menjadikannya dia lebih memilih melanjutkan pendidikan menengahnya di Jakarta yakni ponpes Ashiddiqiyah  Pimpinan KH. Noer Muhammad Iskandar yang notabene paman Hasan. Pendidikan dan kehidupan Jakarta yang sangat berbeda dengan lingkungan pesantren di Jawa Timur menjadikannya sebagai pribadi tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan. Corak dan kultur kehidupan Jakarta yang kompleks  sebagai muara budaya dari berbagai daerah serta sarat dengan perbedaan dengan Jawa Timur menjadikannya luwes dalam menilai serta menyikapi segala perbedaan yang ada di lingkungan santri.

Sikapnya yang demikian menjadikanya sosok yang dianggap mampu membawahi organisasi siswa (OSIS) SMP. Selama menjadi pengurus OSIS, Hasan banyak memberikan teladan bagi siswa-siswa lainya. Dia tunjukan kepada teman-temanya bahwa organisasi bukanlah penghalang suksesnya seseorang. Tetapi justru dengan berorganisasi maka kesuksesan yang kita dambakan akan semakin mudah kita raih. Banyak ilmu yang tidak kita dapatkan di ruang kelas, namun akan kita dapatkan melalui wadah organisasi.

Setelah tamat dari SMP, Hasan melanjutkan pendidikan SMA nya di pesantren yang sama. Kesukaanya terhadap organisasi dan kemampuanya dalam pengetahuan agama menjadikanya diamanahi sebagai ketua Rohis tingkat SMA se-Jakarta Barat. Berbekal keuletan dan kedisiplinan yang selalu menjadi prinsipnya, Hasan banyak menorehkan prestasi, baik dalam lomba-lomba yang diadakan oleh pesantren maupun lembaga lainnya, di antaranya adalah Hasan sempat menjadi juara lomba muhadloroh antar santri yang diadakan oleh pesantrennya.

Pada tahun 1997, setelah lulus dari pendidikan menengah Hasan melanjutkan pendidikannya di rubbat Al-Jufri Madinah yang diasuh oleh Habib Zein bin Smith. Pilihan melanjutkan ke Madinah selain karena kehausannya terhadap ilmu agama, juga atas dorongan keluarganya agar selain belajar, nantinya bisa menunaikan ibadah haji.

Berbekal restu orang tua dan keinginannya memperdalam pengetahuan agama yang begitu kuat, serta tekadnya untuk tidak mengecewakan keluarganya, Hasan menjalani pendidikanya dengan penuh kesungguhan. Selama mesantren di Al-Jufri, banyak masyayikh yang dia datangi untuk menimba ilmu di antaranya Habib Zein bin Smith, Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri dan Syeikh Musthofa At-Turki.

Bersama beberapa temannya, dalam memanfaatkan waktu emas selama belajar di Madinah, Hasan menunaikan rukun Islam kelima. Pada tahun-tahun berikutnya pun dia selalu menyempatkan untuk melaksanakan ibadah haji. Sehingga, selama 4 tahun keberadaanya di Madinah Hasan tidak hanya mendapatkan banyak ilmu dari para masyayikh tetapi juga pengalaman yang tidak kalah hebatnya adalah membimbing jama’ah untuk melaksanakan ibadah haji.

Sepulang dari menuntut ilmu di rubbat Al-Jufri Madinah, pada tahun 2002 Hasan diamanahi untuk memimpin pesantren Ashiddiqiyah  3 yang berlokasi di Cilamaya Karawang. Awalnya, tugas yang diamanahkan kepadanya, dia rasakan begitu berat. Memimpin pesantren tidak seperti membawahi sebuah sekolah layaknya kepala sekolah. Tetapi lebih berat dari itu, memimpin pesantren bukan semata-mata mengajarkan agar para santri menjadi cerdas dan berilmu. Namun juga memberikan contoh dan teladan agar para santri mempunyai karakter yang sesuai dengan nilai-nilai agama.

Atas restu dan dorongan keluarganya, tugas berat yang diembannya tahun demi tahun menunjukan hasil yang menggembirakan. Dalam rangka memajukan pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang, berbagai inovasi program dia gulirkan. Dalam hal kurikulum pendidikan, dia memadukan ciri khas pesantren salaf yaitu kemampuan mengusai pemahaman kitab kuning dan kurikulum pesantren modern, yaitu penekanan terhadap kemampuan berbahasa asing. Selain itu, agar kemampuan santri lebih komprehensif, maka pada tahun-tahun berikutnya santri diwajibkan menghafal al-Quran.

Untuk memotivasi santri agar selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, Gus Hasan sering mendatangkan tokoh-tokoh dan kyai-kyai yang bertaraf nasional maupun internasional. Pengalamannya menuntut ilmu di berbagai pesantren dan luasnya relasi yang dia bangun, menjadikanya mudah dalam mendatangkan tokoh-tokoh tersebut. Akhirnya seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin banyak yang mengenal pesantren Ashiddiqiyah 3. Bahkan lebih dari itu, masyarakat semakin percaya bahwa pesantren Ashiddiqiyah 3 pimpinan Gus Hasan mampu mendidik para santrinya sesuai dengan keinginan dan harapan yang dicita-citakan mereka.

Santri-santri pesantren Ashiddiqiyah  selain dibekali ilmu-ilmu pengetahuan juga diajarkan cara-cara berwirausaha. Salah satu kegiatan yang sering diadakan dalam upaya mengajarkan agar santri mempunyai pengetahuan lebih terhadap dunia wirausaha adalah pelatihan enterpreunership santri. Pelatihan ini bertujuan agar santri tidak hanya mengetahui pentingnya berwirausaha, tetapi juga mampu memperaktekan cara-cara berwirausaha sesuai dengan kapasitasnya. Salah satu wadah yang disediakan pesantren sebagai pembelajaran wirausaha santri adalah dibentuknya koperasi santri. Santri diberikan keleluasaan untuk mengelola koperasi di bawah bimbingan para asatidz. Mereka menjual aneka jajanan, keperluan sekolah dan lain sebagainya. Dan hasil keuntungan yang diperolehnya adalah untuk para santri itu sendiri.

Begitupun dengan para asatidznya, koperasi asatidz pun didirikan sebagai wadah implementasi kewirausahaan di kalangan asatidz. Selain itu untuk memacu semangat kinerja asatidz dalam membimbing para santri, Gus Hasan menginisiasi program pemberdayaan bagi para asatidz. Bagi para asatidz dan guru yang berkeinginan mengembangkan wirausahanya, tentunya di luar kewajibannya mengajar, mereka diberikan pinjaman modal tanpa agunan yang pengembaliannya melalui cicilan yang sangat terjangkau.

Dalam rangka memfasilitasi para asatidz, Gus Hasan juga menginisiasi program pembelian tanah dan pembuatan rumah. Tanah yang telah dibeli dari warga sekitar, kemudian dibangunkan rumah dan diatas namakan asatidz yang bersangkutan. Setelah rumah tersebut jadi, kewajiban asatidz adalah mencicil rumah tersebut ke pesantren. Program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para asatidz. Program demikian telah berjalan semenjak tahun 2012. Adapun beberapa asatidz yang telah terfasilitasi melalui program ini adalah Samsul Hayat, Rosidin, Abdul Mu’in dan Eef Saefudin.

Selain program di atas, dalam upaya memotivasi para asatidz dan guru agar selalu komitmen dengan tugas – tugasnya, Gus Hasan memberikan reward bagi para asatidz dan guru yang berprestasi berupa umroh gratis. Bagi mereka, setiap tahun disediakan kuota dua orang. Penilaian hal demikian dilakukan secara transparan oleh H. Mohamad Iqbal selaku lurah pesantren yang selama ini mendampingi Gus Hasan dalam mengelola dan memajukan pondok pesantren Ashiddiqiyah 3 dan 4.

Dalam perjalanannya, baik program fasilitas rumah maupun pemberian reward umroh gratis, cukup efektif dalam menjaga semangat para asatidz dan guru dalam mengemban kewajiban-kewajibannya. Perasaan betah bagi para asatidz dan guru mengabdi di pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang merupakan modal utama yang harus dibangun. Berawal dari perasaan nyaman inilah, dedikasi dan rasa memiliki terhadap lembaga akan muncul. Sehingga pada akhirnya rasa tanggung jawab untuk memajukan lembaga pun terpupuk secara  maksimal. Begitu  papar Gus Hasan kepada penulis.

“Selain itu, hal yang tidak kalah pentingnya adalah membangun nuansa kebersamaan baik antar santri maupun asatidz di lingkungan pesantren Ashidiqiyah. Hal ini berfungsi untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam berbagai hal. Tentunya yang positif sifatnya”, Pungkasnya.

Walaupun setiap hari Gus Hasan harus mendampingi para santri di pondok pesantren, namun keaktifan beliau dalam NU tidak pernah ditinggalkannya. Pada tahun 2006, Gus Hasan diamanahi sebagai wakil katib di kepengurusan NU Jawa Barat. Selang satu tahun yakni tahun 2007, bertepatan dengan pergantian kepengurusan PCNU kabupaten Karawang beliau terpilih untuk mengemban amanah sebagai Rois Syuriah. Walaupun usia nya saat itu baru 29 tahun, namun para kyai yang notabene lebih sepuh dari Gus Hasan sangat bangga dengan berbagai kemampuan yang dimiliki Gus Hasan.  Dia bukan hanya fasih dalam ilmu-ilmu agama, tetapi dalam membangun dan memberdayakan masyarakatpun sangat mumpuni. Berbagai program dia gulirkan dalam mengemban amanah sebagai pimpinan tertinggi di PCNU Karawang. Inovasi pendirian koperasi berbasis jamaah majelis ta’lim serta pendirian BMT dia gulirkan dalam rangka membangun ekonomi kerakyatan.

Pembinaan dan pendampingan menurutnya merupakan kunci utama dalam membangun ekonomi masyarakat. “Seberapapun modal yang diberikan kepada masyarakat untuk menumbuhkan dan meningkatkan jiwa wirausaha, jika tidak dibarengi dengan pembinaan dan pendampingan yang kontinyu, maka hasilnya tidak akan maksimal. Bahkan bisa jadi itu akan menjadi program sia-sia” ujar pria yang merupakan pembina BMT Niaga Utama Karawang dalam berbagai kesempatan ketika memberikan pembekalan tentang pentingnya ekonomi keumatan.

Bekerjasama dengan BMT Niaga Utama Karawang, Gus Hasan turun ke masyarakat melakukan pembinaan dan pendampingan kewirausahaan. Masyarakat dibuat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10 orang yang sudah memilki usaha atau baru akan memulai usaha. Bagi mereka yang membutuhkan support dana untuk untuk membesarkan usahanya, disediakan pinjaman dana per-orang maksimal sebesar 10 juta rupiah. Untuk membantu agar masyarakat bisa bangkit dalam perekonomiannya, pinjaman tersebut bisa didapat tanpa agunan  apapun. Adapun sebagai bentuk tanggung jawabnya, pinjaman tersebut harus mereka kembalikan dengan cara mencicil. Jika terdapat satu orang mengalami kesulitan untuk mencicilnya, maka anggota yang lain dalam kelompok tersebut berkewajiban memberikan support dan motivasi agar tidak menyerah dan terus bangkit. Selain itu juga, jika salah satu dari mereka macet, maka anggota lainnya akan tertunda untuk mendapatkan support dana kedua dan seterusnya. Peraturan demikian tak pelak menjadikan mereka mempunyai tanggung jawab bersama untuk sama-sama berusaha memenuhi kewajibannya secara maksimal. Dengan demikian, semangat merekapun terpacu untuk terus maju sampai sukses.

Program demikian selain membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya, juga yang tak kalah pentingnya adalah memangkas praktek para rentenir yang berkedok koperasi atau bank keliling. Beberapa kecamatan yang menjadi pilot project program ini adalah meliputi kecamatan Telagasari, Tempuran, Cilamaya Wetan dan kecamatan Cilamaya Kulon. Dari tahun ke tahun program ini terus bergulir dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Mereka  merasa  sangat  terbantu  dengan  adanya  program  ini. Apalagi mereka bukan hanya mendapatkan pinjaman tanpa agunan, namun lebih dari itu mereka diajari bagaimana tata cara berwirausaha yang baik, mulai dari cara memproduksi, mengemas sampai memasarkan produknya.

Pembinaan terhadap masyarakat dengan berbasis ekonomi keumatan, merupakan cara efektif dalam berdakwah. Banyak masyarakat yang awalnya enggan mengikuti pengajian karena alasan kesusahan ekonomi, sekarang malah yang terjadi sebaliknya. Pengajian malam kamis yang digagas oleh Gus Hasan sebagai wadah para jama’ah untuk saling bersilaturahim menjadi sangat menarik buat masayarakat sekitar. Sehingga tak heran, jika setiap malam kamis pondok pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang dibanjiri jama’ah yang mengikuti pengajian rutinan.

Sebagai pengasuh pondok pesantren Ashiddiqiyah 3 dan 4, ketokohan pria kelahiran 25 Februari 1978 ini tidak diragukan lagi. Namanya tidak hanya dikenal di Karawang sebagai tempat domisilinya, namun juga lebih luas yakni di wilayah Jawa Barat. Hal ini terbukti dari terpilihnya Gus Hasan sebagai ketua NU Jawa Barat periode 2016-2021 yang dilaksanakan di pesantren Fauzan Garut. Amanah yang diembannya merupakan kelanjutan kepemimpinan sebelumnya yang diketuai oleh Dr. H. Eman Suryaman, MM yang berasal dari kota wali. Dalam hajat demokrasi rutinan NU Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2016, Gus Hasan terpilih sebagai ketua di dampingi oleh KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami pimpinan ponpes Nurul Huda Garut sebagai Rois Syuriah PWNU Jawa Barat.

Kecintaan Gus Hasan terhadap pesantren sungguh luar biasa. Hal demikian bukan saja karena dia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren, namun juga karena pesantren menurutnya merupakan lembaga pendidikan tertua yang sudah sangat terbukti dalam membangun pendidikan berkarakter. Kalaupun sekarang ada model-model sekolah dengan label di “modernisasi” dengan nama “Plus” atau “ Islam Terpadu (IT)” sejatinya itu hanya adopsi kecil saja dari pola pendidikan pesantren yang sangat komprehensif.

Salah satu inovasinya dalam memimpin NU Jawa Barat adalah, ia bertekad akan menjadikan kantor PWNU menjadi lingkungan pondok pesantren. Menurutnya pesantren harus menjadi basis gerakan NU. Hal itu disampaikannya saat menyampaikan sambutan usai dilantik menjadi ketua PWNU Jawa Barat masa khidmat 2016-2021 di Pesantren Ashiddiqiyah 3 Cilamaya Karawang pada sabtu, 17/12/16.

“Kantor PWNU Jawa Barat akan kita jadikan lembaga pendidikan pesantren percontohan. Selanjutnya, ke depan, lingkungan sekitarnya akan kita kembangkan menjadi lingkungan pondok pesantren” ujar menantu Kyai Noer Muhammad Iskandar.

Lebih lanjut Ia menegaskan akan terus tiada henti memperbaiki format pendidikan yang ada. Pendidikan sejatinya, menurut dia, merupakan roh kemajuan bangsa. “Tentu pendidikan yang berbasis keseimbangan antara ilmu dan akhlak, sains dan teknologi sehingga bisa memberikan kontribusi dalam mencetak generasi yang unggul baik secara ilmu maupun kemajuan teknologi,” pungkasnya.

Dalam mencairkan suasana politik yang selalu melingkupi kepengurusan PWNU Jawa Barat, Gus Hasan memproporsikan bahwa sejatinya kedudukan NU merupakan wadah dari semua kader baik itu yang memilih berpartai PKB, PPP, PDIP, Golkar maupun lainnya. Dengan demikian, ayah empat putra ini lebih memilih akomodatif dalam penyusunan kepengurusannya. Bukan hanya yang berpartai PKB yang diakomodir menjadi pengurus PWNU Jawa Barat. Walhasil dalam kepengurusan PWNU Jawa Barat masa khidmat 2016-2021, banyak dari partai-partai lain yang diakomodir menjadi pengurus. Tentunya mereka yang mempunyai komitmen bersama-sama dalam membangun dan memajukan NU Jawa Barat.

Jabatannya sebagai pimpinan di NU Jawa Barat tidak lantas membuatnya menjadi tinggi hati dan besar kepala. Keta’dimannya terhadap para ulama selalu dia tunjukan. Tradisi cium tangan terhadap kyai dan masyaikh tak pernah hilang dari kehidupannya. Setiap kali berjumpa para kyai yang lebih sepuh dalam berbagai acara, tanpa rasa sungkan, kyai alumni Madinah ini bersalaman dan mencium tangan para kyai sepuh tersebut.

Tradisi-tradisi pesantren yang tertanam dalam jiwanya sangat kuat. Humor dan joke ala pesantren selalu mewarnai obrolannya. Apalagi jika sudah bertemu dengan KH. Hadi Hadiatullah, salah satu wakil katib PWNU Jawa Barat. Kang Hadi, demikian panggilan sapaan akrabnya, selain karena mengenal Gus Hasan sudah sangat lama, bahkan sudah seperti keluarga sendiri juga merupakan teman baik dari KH. Noer Muhamad Iskandar.

Sikap humorisnya selalu dia tunjukan untuk mencairkan suasana kaku baik itu dalam rapat-rapat maupun obrolan santai. Sehingga muru’ahnya sebagai sosok kyai dan sekaligus sebagai ketua NU Jawa Barat tetap terjaga.

Kesantunan dan kebersahajaan sikapnya, membuat Gus hasan disegani oleh para pengurus lainnya. Walaupun secara usia, banyak pengurus yang lebih tua darinya, namun mereka tetap menghormati Gus hasan sebagai sosok ketua yang layak di tua kan. Pengetahuannya yang mendalam, dan wawasannya yang visioner sering kali membuat banyak orang yang mendengar ceramahnya berdecak kagum. Di usianya yang masih relatif muda, 39 tahun, keilmuannya sangat komprehensif, di tambah lagi dengan karirnya begitu gemilang.

Penulis sebagai salah satu pengurus NU Jawa Barat, rutinitas bolak balik ke pesantren Ashiddiqiyah Karawang bukan merupakan hal asing bagiku. Banyak urusan organisasi yang tidak cukup waktu diselesaikan di kantor pada akhirnya harus diselesaikan di rumahnya. Hal inipun seringnya tidak aku selesaikan sendiri tapi bersama kang Asep panggilan akrab H. Asep Saefudin Abdillah (sekretaris) dan wakilnya H. Dasuki.

Setiap kali kami ke pesantren Ashiddiqiyah , hampir tidak pernah satu kali pun sepi dari para tamu yang mengunjunginya. Mulai dari orang tua santri, jamaah, kerabat bahkan para kyai dari berbagai pondok pesantrenpun sering kami jumpai di sana. Ndalem nya hampir tidak pernah sepi. Tamu dari berbagai daerah silih berganti, datang dan pergi seakan tak pernah habis.

Sikap hangatnya dalam menerima tamu membuat orang-orang yang mengunjunginya merasa betah. Bahkan tak sungkan - sungkan Gus Hasan seringkali menawarkan menginap kepada para tamunya. Usianya yang muda tak membuatnya merasa kikuk dalam menerima tamu-tamunya. Walaupun terkadang beberapa orang tua santri yang belum tahu, menganggap Gus Hasan sebagai santri yang mengabdi ke kyainya, bukan sebagai pengasuh pondok pesantrennya.

Suatu ketika datang serombongan orang tua wali santri hendak menengok putranya yang mesantren. Sebagaimana biasa, santri yang berjaga mengantarkan mereka ke ndalem Gus Hasan. Kebetulan waktu itu Gus Hasan dengan berpakaian “sederhana” sedang menerima tamu lainnya di teras rumahnya, sehingga santri yang mengantarkan rombongan tersebut langsung kembali ke tempat tugasnya. Setelah sekian lama ngobrol basa basi, lantas ketua rombongan wali santri tersebut berkata, “Mas tolong kasih tau ke pak kyai nya (Gus Hasan) bahwa kita mau bertemu dengan beliau”. “Di setiap pesantren manapun, ketika saya berkunjung, saya selalu ditemui oleh kyai nya”, lanjut ketua rombongan tersebut menjelaskan.  Agak kaget juga Gus Hasan mendengar permintaan ini, dalam hati dia bergumam, “Oh..dari tadi berarti dia belum tahu sedang ngobrol dengan siapa”. Dengan sedikit berbisik kepada khodimnya, Gus Hasan lantas pamit untuk masuk ke dalam rumah. Sekitar lima menitan, khodimnya mempersilahkan ke rombongan yang tadi, bahwa mereka sudah ditunggu oleh pak kyai di dalam rumah.

Betapa kagetnya rombongan itu, terutama ketua rombongannya. Ternyata orang yang mereka kira santri, yang dari tadi menemui mereka adalah Gus Hasan itu sendiri. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa sosok Gus Hasan masih begitu belia layaknya seorang santri biasa. Dengan tersipu malu, akhirnya ketua rombongan itu meminta maaf kepada Gus Hasan atas sikap yang telah diperbuatnya. “Gak papa pak, saya sudah sering mengalami kejadian seperti ini, banyak kok orang yang mengira bahwa saya santrinya Gus Hasan”. Papar Gus Hasan. Lanjutnya, “Banyak orang tua santri mengira bahwa Gus Hasan itu sudah sepuh, tapi ternyata anggapanya itu salah”.

Kejadian lainnya yang tak bisa membuatku menahan tawa adalah ketika Gus Hasan bercerita bahwa suatu ketika dia diundang untuk mengisi pengajian di luar daerah. Sebagaimana biasa Gus Hasan didampingi oleh santri senior sekaligus ajudannya. Kang Noorjuman begitu panggilan akrabnya. Ketika turun dari mobil, karena Noorjuman berpakaian rapi, necis, berjas, bersepatu, maka tuan rumah menganggap bahwa Gus Hasan adalah Noorjuman. Tak pelak jama’ah berebut menyalami dan mencium tangannya serta mempersilahkannya duduk di depan, ditempat istimewa sejajar dengan para kyai lainnya. Sedangkan Gus Hasan sendiri tertinggal jauh dibelakang dan pada akhirnya duduk dikursi jama’ah lainnya. Tuan rumah dan jama’ah baru tersadar ketika saatnya Gus Hasan naik ke mimbar untuk memberikan mauidhoh hasanah. Ternyata mereka salah menyambut orang. Dalam anggapan mereka Gus hasan adalah orang telah mereka sambut dan didudukan di depan berjajar dengan undangan istimewa lainnya. Dengan hanya tersenyum simpul Gus Hasan menanggapi permohonan maaf tuan rumah yang sudah salah memperlakukannya.

Dalam pandangan para santrinya, Gus Hasan merupakan sosok yang kuat istiqomahnya. “Al-Istiqomah khairun min alfi karomah” dasar inilah yang selalu ditekankan kyai muda ini kepada para santrinya. Tutur mas Faiz, santri yang kini mengabdi sebagai ustadz di pesantren Ashiddiqiyah 4. Salah satu bentuk istiqomah beliau adalah selain mengajar santri, sesibuk dan sepadat apapun kegiatan yang dilakukannya, beliau selalu istiqomah mengimami shalat magrib dan isya bersama para santrinya.

Salah satu bentuk istiqomah lainnya  yang selalu dilakukan Gus Hasan adalah melestarikan pengajian malam kamis di pesantren Ash -Shidiqiyah 3. Al- Muhafadhatu ala al-qodimi ash-sholih wal akhdu bil jadid al-ashlah sebagai bentuk implementasi kaidah ini, di pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang tidak pernah terlewatkan melaksanakan pengajian malam kamis. Pengajian ini selain sebagai media thalabul ilmi juga sebagai wadah bagi jama’ah dan masyarakat sekitar untuk saling bersilaturahim. Setelah pengajian selesai, dilanjutkan dengan program “Bedah Mushola” sebuah kegiatan bakti sosial memberikan sumbangan untuk merenovasi mushola di lingkungan Cilamaya dan sekitarnya. Begitu papar Kang H. Iqbal, sapaan akrab lurah pesantren Ashiddiqiyah 3 Karawang. Program bedah mushola digulirkan semenjak tahun 2016. Dalam implementasinya bedah mushola dilakukan satu kali dalam sebulan. Dana yang dibutuhkan untuk realisasi program bedah mushola didapatkan dari sumbangan jama’ah-jama’ah yang mengikuti pengajian malam kamis. Hasil infak mingguan tersebut dikumpulkan selama satu bulan untuk kemudian diperuntukan sebagai realisasi program bedah mushola. Antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat luar biasa, sehingga program bedah mushola menjadi inisiasi program yang sangat menarik. Ketertarikan jama’ah terhadap program ini, sedikitnya disebabkan karena dua hal yaitu: Pertama, masyarakat diajak langsung melihat hasil infak mereka yang mewujud menjadi sebuah mushola yang cukup representatif. Kedua, mushola yang dibedah adalah mushola yang diajukan oleh jama’ah pengajian malam kamis itu sendiri.

Semenjak 17 Desember 2016 Gus Hasan resmi dilantik sebagai ketua PWNU Jawa Barat oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA. Karena pada dasarnya Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang didirikan oleh para ulama besar yang tidak diragukan lagi kadar keilmuan dan kewira’ianya. Di antara mereka adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Bisyri Syansuri. Maka, dalam menahkodai PWNU Jawa Barat Gus Hasan dalam suatu kesempatan memberikan bekal kepada para pengurus agar membekali diri dengan tiga hal, yaitu ilmu, akhlak, dan kesungguhan.

Pertama, ilmu. Ilmu merupakan sesuatu yang mutlak harus kita miliki dalam aktivitas mengelola jam’iyyah, agar searah dengan nama jam’iyyah ini. Jangankan dalam mengelola sebuah jam’iyyah, beribadah yang untuk kepentingan pribadi atau ibadah mahdlah pun posisi ilmu adalah mutlak dan tidak bisa di tawar. Tanpa dilandasi ilmu, amal seseorang akan tertolak.

Kedua, akhlak. Akhlak adalah kunci kesuksesan paling utama dalam dakwah Nabi Muhammad Saw., juga para wali songo yang menjadi cikal bakal dari lahirnya NU.  Sejarah mencatat bahwa suksesnya dakwah membawa  misi Islam sedemikian rupa itu tidak di kotori oleh cercaan, kekerasan apalagi pertumpahan darah. Perkembangan dakwah Islam berlangsung sangatlah cepat, mengakar dengan kokoh sampai hari ini dan insyaallah akan demikian seterusnya.

Ketiga, kesungguhan. Tidak ada kesuksesan yang tidak diawali dengan kesungguhan. Ketiga kunci itu, sebelum diterapkan dalam membangun NU, tentulah harus terlebih dahulu diterapkan dalam membangun kartakter pribadi kita masing-masing. Saya sangat yakin, dengan berbekal tiga perkara di atas dalam membangun jam’iyyah ini, baik di dalam struktur maupun kultur, akan dapat menjadikan keberadaan NU semakin istimewa di masa yang akan datang.

Dalam konteks kekinian, bercermin dari periode-periode sebelumnya, munculnya polemik dalam organisasi NU Jawa Barat itu seringkali diawali dari perbedaan pilihan para elit pengurus dalam masalah PILKADA. Dalam hal ini untuk menjaga keutuhan bersama, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat berkomitmen untuk mengayomi aspirasi semua warga nahdliyin. PWNU menghargai sepenuhnya aspirasi politik jamaah yang beragam di berbagai partai politik. PWNU sangat berharap semua politisi nahdliyin dapat memperjuangkan kepentingan umat melalui partainya masing-masing.

Demikian beberapa poin penting yang menjadi kebijakan Ketua PWNU Jawa Barat KH. Hasan Nuri Hidayatullah dalam upaya menjaga keharmonisan ditubuh NU Jawa Barat. Semoga.(AK)